
Berikut ini jawaban Dr.Helmia Farida terhadap pertanyaan seputar demam berdarah yang dikutip dari milis SMA 1 Semarang angkatan 85. Terima kasih Helmia atas keikhlasan berbagi ilmu dan kebaikan kepada kita semua. Semoga bermanfaat.
Pertanyaan 1 : Beberapa orang mengatakan bahwa air hexagonal mujarab dalam penyembuhan DB, Gimana menurut bu dokter?
Soal air hexagonal itu begini... seperti yang kubilang dalam email sebelumnya, penyakit DB ini sangat unik, perjalanan penyakitnya bisa berbeda-beda seperti yang kutulis tempo hari, sekitar 10-20 % orang yang terinfeksi DB tidak ada gejala sama sekali. 20-40% gejalanya hanya demam seperti influenza biasa kemudian sembuh sendiri tanpa terapi apapun. 40-60% gejala demam dengan kebocoran pembuluh darah yang ringan, dengan atau tanpa perdarahan ringan (DB derajat I dan II). Kelompok ini cuma butuh cairan (yang bisa dicukupi dengan banyak minum) untuk mengganti cairan plasma yang merembes keluar pembuluh darah, hanya sebagian kecil (kecil sekali malah) mungkin butuh tranfusi.
Sekitar 5% (sorry yang kemarin itu keliru, ini yang lebih tepat) mengalami gejala yang berat (kebocoran pembuluh darah yang cukup berat sampai sangat berat), yang tanpa penanganan dini dan memadai bisa meninggal (DB derajat III dan IV). Sebagian dari kelompok ini, dengan penanganan sebaik apa pun memang tidak dapat tertolong. Jadi DB ini berbeda dari penyakit lain yang perjalanan alaminya lebih seragam dan lebih mudah diramalkan, seperti "tipes", radang paru, kencing manis, dll.
Oleh karena itu, sulit untuk mengklaim bahwa suatu "sesuatu" itu baik atau manjur untuk mengatasi DB, apa lagi hanya dengan 2 -3 contoh.... itu sangat jauh dari memadai untuk mengambil kesimpulan. Bisa jadi (dan ini yang sering terjadi dan kemudian dikatakan orang sebagai bukti kemanjuran "sesuatu" sebagai obat DB) , orang yang minum "sesuatu" itu memang kebetulan termasuk DB dengan gejala flu, DB derajat I dan II yang sebenarnya tanpa minum "sesuatu" itu tetap akan sembuh sendiri. Sedangkan penderita yang tidak minum "sesuatu" itu kebetulan DB derajat III atau IV. Di mata orang awam, ini menimbulkan kesan : oh berarti "sesuatu" itu bagus untuk DB..padahal yang terjadi sebenarnya adalah derajat DB pada orang yang diamati itu memang tidak sebanding. Ini bisa dianalogkan seperti memberi soal ujian yang sama kepada anak SD dan anak SMA, dan kemudian karena nilai anak SMA lebih tinggi lalu kita menyimpulkan : oh, berarti anak SMA itu pinter dan anak SD itu bodoh. Kesimpulan yang menyesatkan kan?
Secara saintifik kita hanya bisa menerima statement bahwa "sesuatu" itu bagus/ bermanfaat untuk DB, apabila: Pengamatan itu dilakukan pada kelompok yang sama derajat berat penyakit-nya dan dengan jumlah pengamatan (replikasi) yang cukup
(ini "rumusannya" saya sederhanakan, tetapi sebenarnya tidak sesederhana ini, ada syarat lain yang tidak kusampaikan di sini yaitu blinding dan kontrol, biar tidak membingungkan). Sejauh ini, yang sudah dibuktikan (melalui penelitian yang memadai) memberikan manfaat pada pasien DB memang hanya cairan (dengan jenis, jumlah, serta saat pemberian yang tepat). Tujuan pemberi cairan adalah untuk mempertahankan volume cairan plasma darah, sehingga walaupun pembuluh darahnya "bocor", tetap masih ada jumlah yang cukup dalam pembuluh darah untuk mempertahankan volume efektif fungsi sirkulasi darah; sebab "biang kerok" dari muculnya segala penyulit dalam DB adalah : berkurangnya volume efektif dalam pembuluh darah (sekali lagi bukan turunnya trombosit).
Mungkin muncul pertanyaan : kenapa yang ditangani adalah efek kebocoran dengan memberikan cairan, bukannya malah menambal (atau mencegah) kebocoran itu sendiri? Jawabnya adalah : karena sampai saat ini belum diketahui caranya. Lagi pula kebocoran itu, baik derajat ringan maupun berat hanya terjadi maksimal 48 jam (terjadi di antara hari sakit ke 3-ke 6), dan tanpa obat apa pun, setelah itu kebocoran itu akan membaik sendiri. Dan tanpa obat apapun, trombosit akan meningkat sendiri (asal volume efektif dalam pembuluh darah dapat dipertahankan) ..mungkin pada saat ini sistem kekebalan tubuh mulai "insyaf" bahwa mereka hanya menjadi "korban provokasi" virus DB , lalu menghentikan aktivitas yang merusak diri sendiri .
Jadi satu-satunya yang bisa dilakukan dokter adalah memantau dan mengupa- yakan agar ada cukup cairan dalam pembuluh darah selama kebocoran itu masih terjadi, dan menghentikan pemberian cairan setelah fase kebocoran itu terlewati (hari ke-6 sakit). Is it that simple? Pada DB derajat I dan II, yes, it is that simple. Cukup diatasi dengan banyak minum. Pada DB derajat III yang ringan, juga masih agak lumayan simple (anjuran banyak minum juga bermanfaat pada awal perjalanan penyakit kelompok ini). Pada DB derajat III yang berat dan derajat IV, sama sekali tidak simple, karena ukuran kebocoran begitu besar, sehingga cairan yang diberikan melalui infus dengan cepat keluar dari pembuluh darah; masuk ke jaringan tubuh seperti rongga paru (menyebabkan sesak), otak (jadi sembab otak) dll. Pada pasien seperti ini, sangat sulit mempertahankan volume efektif dalam pembuluh darah, walaupun "hanya untuk 48 jam" (sebelum fase kebocoran berhenti), yang akan memicu rangkaian penyulit DB, seperti perdarahan hebat dan sulit dikendalikan, gagal napas, penurunan kesadaran.
Pertanyaan 2 : Bagaimana cara mengetahui apakah seorang pasien DB termasuk derajat I, II, III, atau IV?
Pada awal sakit, ini tidak bisa diketahui, juga tidak bisa diramalkan. Umumnya baru diketahui ..eh..bukan diketahui ding, cuma diperkirakan/ diramalkan, setelah penyakit memasuki demam hari ke 3/ke-4 sampai hari ke- 6. Itu sebabnya dokter akan melakukan pemeriksaan darah berulang pada saat penderita memasuki demam hari ke 3-6.
Pertanyaan 3 : Apa yang menentukan orang yang terinfeksi DB akan mengalami perjalanan penyakit derajat I, II, III, atau IV ?
Belum diketahui secara pasti, tapi sejauh ini, sudah diidentifikasi beberapa gen dalam kromosom manusia yang berhubungan dengan DB berat / sangat berat ( derajat III dan IV). Masih ingat tentang "gen" kan? itu sesuatu yang kita "peroleh" begitu sperma ayah kita membuahi sel telur ibu kita, dan melekat pada diri kita seumur hidup kita (sepanjang tidak terjadi mutasi lho..). Jadi, secara bawaan, tampaknya memang sudah ditetapkan oleh Allah sejak saat invidu itu diciptakan, bahwa seseorang itu, kalau nanti kena DB, akan "selamat", "selamat apa bila mendapat pertolongan yang tepat", atau "tidak akan selamat walau mendapat pertolongan sebaik apa pun". (Hehe..ini imaginasiku sendiri dalam konteks takdir ... bahwa umur manusia telah ditetapkan saat Allah menciptakannya).
Di Indonesia dan di banyak negara, angka "bablas" karena DB ini menjadi besar karena kegagalan dalam memberikan pertolongan yang dini dan tepat pada pasien derajat III dan IV. Perawatan di RS sebenarnya bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan apakah seorang pasien akan masuk kelpompok DB berat ini (dan kemudian memberi pertolongan sesuai dengan keadaan klinisnya). Jadi sebenarnya hanya pasien DB kelompok ini lah yang membutuhkan perawatan.
Pasien DB derajat I dan II SEBENARNYA TIDAK PERLU PERAWATAN RS, karena kebocoran pembuluh darah dan penurunan trombosit bersifat ringan, tidak akan menimbulkan "gejolak" yang signifikan dalam tubuhnya, serta akhirnya sembuh sendiri. Kebocoran plasma pada DB derajat I dan II masih dapat diatasi dengan banyak minum. (Dokter paling happy deh kalau merawat pasien seperti ini nih...). Hanya saja, dokter tidak akan pernah bisa memastikan apakah pasiennya akan masuk derajat I,II, III, atau IV sebelum sakitnya mencapai hari ke-6, sehingga, dari pada ragu dan "missing", maka semua penderita yang sudah dicurigai DB akan diminta mondok, demi kemudahan pemantauan dan pemberian pertolongan apa bila ternyata penderita itu akhirnya masuk ke derajat III dan IV (yang sebenarnya jumlahnya hanya 5% dari penderita DB)
Pertanyaan 4: Apakah progress pasien yang menurut gen yang ia miliki "berbakat" mengalami DB sangat berat bisa dicegah dengan memberikan "sesuatu" ?
Sulit dijawab. Penelitian ilmiah sampai saat ini sudah sangat banyak, tapi masih belum menemukan caranya, sementara klaim non ilmiah yang jumlahnya cukup banyak (misalnya angkak, daun jambu biji, air hexagonal dll) tidak pernah didasarkan pada penelitian dengan kelompok derajat penyakit yang sama dan jumlah replikasi yang cukup (alias sulit dipercaya).
Mudah-mudahan lebih jelas ya Yen..jadi tentang air hexagonal itu, bermanfaat kalau jumlahnya banyak sehingga bisa menggantikan cairan plasma yang bocor, kalau penderita itu termasuk kelompok DB derajat I-II, atau DB derajat III yang ringan pada awal perjalanan penyakit (dalam hal ini yang penting adalah volumenya, bukan hexagonalnya). Dalam hal kenalanmu itu (yang nggak jadi bablas setelah minum air hexagonal), aku yakin, dia juga pasti sudah diinfus, sehingga manfaat volume air hexagonal yang dia minum itu jadi dipertanyakan.
Dan, sangat mungkin mereka memang "dari sononya" memiliki sistem kekebalan tubuh yang tidak terlalu mudah diprovokasi sehingga DB yang dialami juga memang hanya derajat I, II, atau derajat III yang ringan. Ybs sudah bikin testimoni segala ya....aduuhhhh...moga tidak semakin menyesatkan, karena bisa membuat orang lalu berpikir kalau DB tinggal minum air hexagonal, lalu beres...it is not just that simple ..!! padahal yang dibutuhkan sebenarnya airnya (cairannya), bukan heksagonalnya...
Pertanyaan 5 : Penderita DB sebaiknya banyak intake (mengkonsumsi) makanan yang bergizi dan minum cairan yang banyak, terutama yang mengandung anti-oksidan, dan minuman yang banyak mengandung anti oksidan tinggi konon adalah air kelapa.. Is it right? (pertanyaan syamsulhuda)
Untuk Samsul Huda, secara umum kehidupan kita memang diliputi oleh banyak oksidator yang memiliki efek toksik pada sel tubuh manusia. Efek toksik ini muacem-muacem... mulai dari penuaan dini, infertilitas, mudah mengalami kekambuhan bagi penderita penyakit kronik, sampai dengan kanker. Dalam hal ini, kerentanan/ kepekaan seseorang terhadap efek oksidator ini juga sangat bervariasi, yang sebagian besar (lagi-lagi) ditentukan oleh gen dalam tubuhnya.
Jadi secara umum, memang perlu menjamin kecukupun antioksidan dalam tubuh. Ini bisa dicapai dengan menjaga keseimbangan antara paparan dengan hal-hal yang meningkatkan jumlah oksidator di sekitar kita (rokok, makan bakar-bakaran, polusi, kerja keras tanpa selingan olah raga cukup dsb) dan mengkonsumsi cukup antioksidan. Salah satu aktioksidan paling baik adalah vitamin C dan vitamin A. Air kelapa juga mengandung antioksidan, tetapi aku tidak tahu berapa banyaknya. Oh ya, jadi ingat, kalau tidak salah air heksagonal itu adalah air yang salah satu molekul oksigennya dibikin kekurangan elektron sehingga bisa berfungsi juga sebagai antioksidan (tentang ini mungkin orang Kimia yang lebih tahu...). Beberapa jenis madu juga tampaknya punya efek antioksidan (ini untuk mejawab klaim tentang madu sebagai obat, tapi maaf, aku tidak tahu banyak tentang ini)
Mudah-mudahan bermanfaat dan tidak bikin bosan membacanya..
Helmia
ini bisa kayak kuliah serial yg gratis ...asyiiik ...
BalasHapusPS: aku coba nambah dr materi lainnya siapa tahu makin nambah pemahaman kita semua ttg DBD
www.scribd.com/doc/9531102/Tatalaksana-Dhf-Pada-Anak-02
http://www.ziddu.com/downloadlink/4016444/NAMBAHILMUTENTANGPROGRAMPEMBERANTASANPENYAKITDBD.doc